
AFP
Ketua Bayern Muenchen, Karl-Heinz Rummenigge.
"Ketika saya bangun, pikiran pertama selalu soal laga itu. Kami sangat sakit hati, lebih sakit dibanding ketika kami dikalahkan Manchester United di final 1999," ujar Rummenigge.
"Saya merasa kekalahan ini akan menghantui kami untuk waktu lama. Namun, saya pernah kalah di dua final Piala Dunia (1982 dan 1986), dan dari pengalaman saya, saya tahu waktu akan menyembuhkan luka," tambahnya.
Pada final 1999, Bayern unggul lebih dulu melalui Mario Basler pada menit keenam. Pertandingan berakhir 2-1 untuk MU berkat gol Teddy Sheringham pada menit ke-90+1 dan Ole Gunnar Solskjaer pada menit ke-90+3.
Pada final 2012, Bayern juga unggul lebih dulu, melalui Thomas Mueller pada menit ke-83. Namun, lima menit setelahnya, Didier Drogba membawa Chelsea menyamakan kedudukan.
Kedua kubu kemudian memainkan babak tambahan karena skor 1-1 tak berubah sampai akhir babak normal. Pada babak ini, Bayern mendapat penalti, setelah wasit menilai Drogba melanggar Franck Ribery.
Namun, Bayern gagal mendapat gol dari kesempatan itu. Arjen Robben yang dipercaya mengeksekusi penalti melepaskan tembakan, yang terbaca dan bisa dihentikan Petr Cech di luar garis gawang.
Persaingan kedua tim akhirnya dituntaskan melalui adu penalti. Bayern mendapat angin, ketika tembakan eksekutor pertama Chelsea, Juan Mata, ditepis Manuel Neuer. Namun, Chelsea memenangi duel dengan skor 4-3 karena tembakan eksekutor keempat Bayern, Ivica Olic, ditepis Petr Cech; dan tembakan eksekutor kelima, Bastian Schweinsteiger, membentur tiang kiri.




















